JAKARTA, KOMPAS.com - Menjaga kesehatan reproduksi merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri.
Sayangnya, peran laki-laki dalam program kehamilan terkadang dikesampingkan karena adanya pandangan bahwa urusan keturunan lebih banyak dibebankan kepada pihak perempuan.
Faktanya, kualitas sel benih laki-laki memegang peranan sangat penting dalam menentukan tingkat keberhasilan kehamilan, baik secara alami maupun saat pasangan memutuskan untuk menjalani program bayi tabung.
Baca juga: Mengapa Pemeriksaan Kesuburan Pria Wajib Jadi Langkah Awal Program Hamil?
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, mengatakan, banyak calon ayah tidak menyadari bahwa kebiasaan harian mereka diam-diam menurunkan kualitas sperma.
Berbagai kebiasaan sehari-hari hingga pilihan asupan yang keliru nyatanya bisa merusaknya. Perbaikan gaya hidup ini tidak bisa instan dan butuh waktu yang konsisten agar kualitas sperma suami kembali prima sebelum pembuahan terjadi.
Sel sperma memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan suhu di sekitarnya. Suhu yang terlampau panas di area intim laki-laki akan menghambat proses produksi sperma yang sehat.
Kebiasaan memanjakan diri dengan fasilitas relaksasi bersuhu tinggi justru bisa menjegal peluang kehamilan pasangan.
"Sperma sangat tidak tahan terhadap panas. Pakaian dalam terlalu ketat, berendam air panas, mandi sauna, itu merusak sperma," ujar dr. Budi.
Pelindung inti sel sperma tidak dirancang untuk menahan paparan suhu ekstrem. Apabila area intim dibiarkan terpapar panas, sel akan rusak sebelum sempat membuahi sel telur.
"Materi genetik sperma namanya DNA. Itu sangat mudah pecah pembungkusnya. Pembungkusnya mudah pecah kalau dia terekspos panas," jelas dr. Budi.
Di era serba digital, kita memang sulit lepas dari gadget. Namun, kebiasaan menaruh barang elektronik terlalu dekat dengan area intim ternyata bisa berakibat fatal.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, dalam acara media gathering untuk memperingati lima tahun kehadiran RS Pondok Indah IVF Centre di Jakarta, Kamis (27/8/2026).Bekerja sambil memangku laptop, misalnya, atau menyimpan ponsel di saku celana dekat area intim, nyatanya membawa risiko radiasi yang memengaruhi kesehatan sperma.
Selain paparan radiasi, kebiasaan malas gerak juga ikut memperburuk keadaan. Menghabiskan waktu berjam-jam menonton televisi ternyata bisa mengancam kualitas sel tersebut.
"Menonton televisi 40 jam berturut-turut selama satu minggu itu mengganggu merusak DNA sperma," tutur dr. Budi.
Kerusakan DNA sperma akibat kebiasaan-kebiasaan ini jelas berdampak panjang pada peluang kehamilan pasangan. Jika dipaksakan, embrio yang terbentuk berisiko mengalami kelainan.